Halaman

Sabtu, 02 April 2011

Contoh Soal & Jawab Koas Anak


PERINATOLOGI
Tanda bahaya pada neonatus:
·      Tidak bisa menyusu
·      *Kejang à phenobarbital 20 mg/kgBB IV dalam 5 menit à 10mg/kgBB à phenitoin
·      *Somnolence/tidak sadar ......*GDS<45mg/dL à D10 2 ml/kg IV dalam 5 menit
·      Frekuensi nafas<20x/menit atau apneu>15 detik à VTP balon & sungkup, O2 100%
·      Takipneu, merintih, retraksi, sianosis sentral à O2 nasal kanul 2 L/mnt
·      Curiga infeksi à ampicillin + gentamisin

1.      Bayi baru lahir 5 hari tidak bisa minum, kuning, nafas cepat, gerakan tidak aktif, HR 170x, RR 66x, t 36,2 C.
a.       DD: ikterus fisiologis, ikterus e.c. sepsis/penyakit hemolitik/penyakit hati/hipotiroidism
·   Direk: Sepsis/TORCH infection/atresia biliaris/kolelitiasis/kelainan hemolitik/dll
·   Indirek: Incompatibility/def. G6PD/DIC/enclosed hemorrhage/asfiksia nenonatal/ breast feeding/dll
b.      Untuk menjaga agar bayi tetap hangat: kontak kulit(KMC), taruh di inkubator/ penghangat.
c.       Mencegah hipoglikemia: NGT, infus dextrose.
d.      Ikterus abnormal: mulai hari I/disertai demam/kramer 5
e.       Indikasi rujuk:
                                                              i.      Timbul hari I atau menetap setelah 7 hari
                                                            ii.      Bayi dengan resiko kern ikterus atau hiperbilirubinemia ensefalopati
                                                          iii.      Anak lemah, letargis, ada kecenderungan perdarahan
f.        Px Lab: bilirubin total-direk-indirek, Uji Coombs, hematokrit, MDT, kultur darah.
g.       Penanganan:
                                   i.      Cari kausa hiperbilirubin
                                 ii.      Balance cairan & kalori, pemberian ASI
                               iii.      Fototerapi jika:                          àphenobarbitol/luminal, gagal à tranfusi tukar.
·         Ikterus hari I
·         Ikterus berat(kramer 5)
·         Ikterus pada bayi kurang bulan
·         Ikterus karena hemolisis

2.      Sepsis
a.       Faktor resiko
              i.      Antenatal: infeksi ibu hamil, perdarahan, KPD>18jam, dll
            ii.      Natal: setting persalinan kurang baik, air ketuban keruh, dll
          iii.      Post Natal: resusitasi tdk steril, BBLR, ruang rawat tidak baik, perawatan tidak aseptik, dll
b.      Diagnosis
              i.      Pemeriksaan Fisik(lebih dari 1 gejala pada min 4 kelompok tanda berikut)
·         Umum: tampak sakit, tidak mau minum, suhu tidak stabil, sklerema dan sklerederma
·         GIT : muntah, diare, hepatomegali, kembung
·         Respirasi : dispnea, takipnea, distress respirasi
·         Kardiovaskular: takikardia, edema, dehidrasi
·         Neuro : letargi, iritabel, kejang, UUB bonjol, kaku kuduk
·         Hematologi: ikterus, splenomegali, ptekie/peradarahan, leukopenia
            ii.      Px Laboratorium
·         KED meningkat
·         Trombositopenia
·         CRP > 2mg/dL
·         Kultur +
·         Granulasi toksik/vakuolisasi PMN
·         Leukopenia, rasio netrofil Imatur/Total >0,2
·         Radiologi: penampakan pneumonia
c.       Terapi
              i.      Perawatan aseptik
            ii.      Termoregulasi (36,5-37), O2 cukup, perawatan tali pusat
          iii.      Elektrolit IV, nutrisi sesuai kebutuhan
           iv.      Antibiotik : Ampisilin + gentamisin IV selama 7 hari, 3 hari ga membaik ganti cefotaksim

3.      Tetanus
a.       Imunisasi à DPT 3 x usia 2,3,4 bulan, ulangan 18 bulan
b.      Anamnesis & Px fisik
                    i.      Persalinan & perawatan tali pusat kurang higienis, sering mengalami kaku bila tersentuh, malas minum
                  ii.      Spasme otot berulang, mulut mecucu, trismus(mulut sulit dibuka), perut papan, opistotonus, anggota gerak spastik.
c.       DD: meningitis bakterial/encephalitis/epilepsi
d.      Terapi:
                    i.      Antibiotik: Metronidazole 30 mg/kg/hari tiap 6 jam selama 7-10 hari
                  ii.      ATS 5000 U IM atau HTIg 500 U IM
                iii.      Diazepam 0,1-0,3 mg/kg/4 jam
                 iv.      O2 jika perlu ventilator

PULMONOLOGI
1.      TB Pulmo
a.       Pernyataan yang tepat mengenai pengobatan TB:
                    i.      Diberikan 2 atau lebih obat anti tuberkulosis(OAT)
                  ii.      Obat diminum teratur
                iii.      Obat diberikan dalam waktu yang lama
b.      Penyebaran TB milier secara: hematogen.
c.       Definisi masa inkubasi TB: masa dari masuknya kuman TB hingga terbentuk fokus primer.
d.      Skoring TB
                    i.      Kontak dengan pasien TB (0, 2, 3)
                  ii.      Uji tuberkulin (0, 3)
                iii.      Berat Badan/Status gizi (0, 1, 2)
                 iv.      Demam tanpa sebab jelas (0, 1)
                   v.      Batuk >3minggu (0, 1)
                 vi.      Pembesaran kelenjar limfe (0, 1)
               vii.      Pembengkakan sendi/tulang (0,1)
             viii.      Foto Dada (0,1)
e.       Terapi :
              i.      3 macam obat pada fase awal(2bulan) dan dilanjutkan 2 macam obat fase lanjutan(4bulan).
            ii.      TB berat: 4 obat fase intensif dan 2 obat fase lanjutan.
·         INH: 5-15 mg/kgBB/hari, maksimal 300mg/hari
·         Rifampisin: 10-20 mg/kgBB/hari, maks 600 mg/hari
·         Pirazinamid: 15-30 mg/kgBB/hari, max 2000 mg/hari
·         Etambutol: 15-20 mg/kgBB/hari, max 1250 mg/hari
·         Streptomisin: 15-40 mg/kgBB/hari, max 1000 mg/hari
f.        Profilaksis anak : Isoniazid 5-10 mg/kgBB/hari selama 6 bulan.

Kamis, 31 Maret 2011

DERMATITIS DISHIDROTIK

Sinonim: pomfoliks, vesicular palmar eczema

Definisi:
Dermatitis/ekzema endogen yang ditandai dengan adanya vesikula yang dalam, mengenai telapak tangan, kaki, dan sisi jari-jari, biasanya simetris dan bilateral. Dermatosis terjadi akut, kronik, maupun rekuren.
Lokasinya sering pada tempat yang banyak keringat(hiperhidrosis), maka diduga penyebabnya adalah keringat (dishidrotik). Secara histologi dijumpai vesikel penuh berisi cairan di epidermis.
Penderita biasanya memiliki riwayat atopik, lebih sering pada dewasa muda baik laki-laki atau perempuan.

Manifestasi Klinis:
Pada stadium akut terdapat banyak vesikel berisi cairan yang muncul tiba-tiba. kadang vesikel berkelompok dan membentuk bula.
Stadium kronik kulit menjadi kering dan bersquama.

Diagnosis Banding:
o   Dermatifitidà dermatitis sekunder yang terjadi karena infeksi jamur.
o   DKI à DKI dapat menjadi faktor pencetus pomfoliks, biasanya mengenai dorsum manus dan sela jari.
o   Psoriasis Pustular à biasanya melibatkan kuku, batasnya jelas dan tidak begitu gatal.
o   Pomfoliks à lokasi terutama telapak dan pinggir lateral jari.

Pemeriksaan penunjang:
Ø  Kultur bakteri: untuk menyingkirkan infeksi S. Aureus
Ø  Preparat KOH: untuk menyingkirkan dermatofitosis epidermal
Ø  Dermatopatologi: inflamasi eksema(spongiosis dan edema intraepidermal) dengan vesikel intraepidermal

Prognosis
Serangan rekuren. Remisi spontan dalam 2-3 minggu. Interval serangan minggu hingga bulan.
Infeksi sekunder bisa menjadi komplikasi perjalanan: pustul, krusta, selulitis, lymphangitis, dan limphadenopathy.


Terapi
o   Untuk tahap vesikuler: Burow’s wet dressing. Bula yang luas dialirkan dengan tusukan tanpa membukanya.
o   Fisura: aplikasi topikal dari collodion lunak.
o   Astrigen untuk mengeringkan kulit.
o   Emolien pada lesi kulit yang kering.
o    Kortikosteroid 
  • Topikal: glukokortikoid kuat dengan dresing oklusif selama 1-2 minggu 
  •   Injeksi intralesi: triamsinolon 3mg/mL, efektif untuk area yang kecil. 
  •    Antibiotik Sistemik: suspek infeksi sekunder pada lesi.

Senin, 28 Maret 2011

Tanya Jawab IUGR

Pertanyaan
1.      Apa yang dimaksud dengan IUGR?
2.      Bagaimana penatalaksanaan kasus IUGR?
3.      Komplikasi apa saja yang bisa terjadi pada janin dengan IUGR?

Jawaban
1.                  Intrauterine Growth Restriction(IUGR) atau pertumbuhan janin terhambat(PJT) dalam bahasa Indonesia mengacu pada janin dengan berat badan di bawah presentil ke-10 pada standard intrauterine growth chart of low birth weight untuk masa kehamilan, dan mengacu kepada suatu kondisi dimana janin tidak dapat mencapai ukuran genetik yang optimal.
            IUGR dibagi menjadi IUGR simetris dan asimetris. Pada IUGR simetris pertumbuhan seluruh organ berkurang secara proporsional, hal ini lebih dikarenakan faktor endogen yang menyebabkan gangguan hiperplasia sel fetus.

2.                  Langkah pertama dalam menangani IUGR adalah mengenali pasien-pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk mengandung janin kecil. Langkah kedua adalah membedakan janin IUGR atau malnutrisi dengan janin yang kecil tetapi sehat. Langkah ketiga adalah menciptakan metode adekuat untuk pengawasan janin pada pasien-pasien IUGR dan melakukan persalinan di bawah kondisi optimal.
            Untuk mengenali pasien-pasien dengan resiko tinggi untuk mengandung janin kecil, diperlukan riwayat obstetrik yang terinci seperti hipertensi kronik, penyakit ginjal ibu dan riwayat mengandung bayi kecil pada kehamilan sebelumnya. Selain itu diperlukan pemeriksaan USG. Pada USG harus dilakukan taksiran usia gestasi untuk menegakkan taksiran usia gestasi secara klinis. Kemudian ukuran-ukuran yang didapatkan pada pemeriksaan tersebut disesuaikan dengan usia gestasinya. Pertumbuhan janin yang suboptimal menunjukkan bahwa pasien tersebut mengandung janin IUGR.
Tatalaksana kehamilan dengan IUGR bertujuan adalah untuk melahirkan bayi yang sudah cukup usia dalam kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu. Tatalaksana yang harus dilakukan adalah :
  1. IUGR pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah segera dilahirkan.
  2. IUGR jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada janin ini, dan bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan cairan ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah janin dianjurkan
a. Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Tirah baring dengan posisi miring ke kiri, Perbaiki nutrisi dengan menambah 300 kal perhari, Ibu dianjurkan untuk tidak merokok dan mengkonsumsi alkohol, Menggunakan aspirin dalam jumlah kecil dapat membantu dalam beberapa kasus IUGR. Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan maka harus segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 3-4minggu.
b. Tatalaksana khusus : pada IUGR yang terjadi jauh sebelum waktunya dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat maka nutrisi harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik dan alkohol, maka semuanya harus dihentikan
c. Proses melahirkan: pematangan paru harus dilakukan pada janin prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk mencegah komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan apabila terjadi distress janin serta perawatan intensif neonatal care segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan kejadian distress janin selama melahirkan meningkat pada IUGR karena umumnya IUGR banyak disebabkan oleh insufisiensi plasenta yang diperparah dengan proses melahirkan.
3.                  Kondisi bayi. Janin dengan IUGR memiliki risiko untuk hipoksia perinatal (kekurangan oksigen setelah melahirkan) dan aspirasi mekonium (terhisap cairan mekonium). IUGR yang parah dapat mengakibatkan hipotermia (suhu tubuh turun) dan hipoglikemia (gula darah berkurang). Pada umumnya IUGR simetris dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan pertumbuhan bayi yang terlambat setelah dilahirkan, dimana janin dengan IUGR asimetris lebih dapat “catch-up” pertumbuhan setelah dilahirkan.